
Barcelona membuka perjalanan di UEFA Champions League 2026/2027 dengan pesta gol. Bermain di hadapan pendukung sendiri, Blaugrana tampil dominan dan menghancurkan Feyenoord dengan skor 5-1 pada pertandingan fase liga, Rabu malam waktu setempat atau Kamis dini hari WIB, 10 September 2026.
Kemenangan besar tersebut memperlihatkan ketajaman lini depan FC Barcelona sekaligus menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan panjang di kompetisi Eropa. Raphinha tampil sebagai pemain paling menonjol setelah mencetak dua gol, sedangkan Karim Adeyemi, Lamine Yamal, dan Gabriel Jesus turut menyumbangkan gol untuk tuan rumah.
Raphinha Langsung Membuka Pesta Gol
Barcelona tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan keunggulan.
Pertandingan baru memasuki menit ketiga ketika Raphinha berhasil membobol gawang Feyenoord. Gol tersebut menjadi gambaran awal mengenai pendekatan yang digunakan Barcelona pada pertandingan ini.
Tim asuhan Hansi Flick langsung memberikan tekanan tinggi sejak peluit pertama. Para pemain depan tidak hanya menunggu bola di area pertahanan Feyenoord, tetapi aktif mengejar pemain lawan ketika kehilangan penguasaan.
Raphinha menjadi salah satu pemain yang paling agresif dalam skema tersebut. Pergerakannya dari sisi kiri maupun tengah membuat pertahanan Feyenoord kesulitan menentukan pemain yang harus mengawalnya.
Keunggulan cepat membuat Barcelona semakin percaya diri mengontrol pertandingan.
Adeyemi Menambah Keunggulan Barcelona
Feyenoord mencoba bertahan lebih rapat setelah kebobolan. Namun, strategi tersebut tidak cukup untuk menghentikan variasi serangan Barcelona.
Pada menit ke-22, Karim Adeyemi menggandakan keunggulan tuan rumah melalui penyelesaian yang sangat baik dari depan kotak penalti.
Pemain asal Jerman tersebut melepaskan tembakan melengkung yang mengarah ke sudut gawang dan tidak mampu dihentikan kiper Feyenoord.
Gol tersebut semakin memperlihatkan perbedaan kualitas kedua tim dalam memanfaatkan ruang. Barcelona mampu menciptakan situasi berbahaya hanya melalui beberapa rangkaian operan, sementara Feyenoord lebih banyak menghabiskan energi untuk bertahan.
Adeyemi juga mencatatkan sejarah tersendiri karena menjadi pemain Jerman yang kembali mencetak gol untuk Barcelona di kompetisi Champions League setelah penantian panjang.
Feyenoord Sempat Mencoba Bangkit
Memasuki babak kedua, Feyenoord tidak ingin sekadar menjadi korban pesta gol Barcelona.
Tim asal Belanda tersebut mencoba meningkatkan keberanian dalam menyerang dan beberapa kali berusaha memanfaatkan ruang di belakang lini pertahanan tuan rumah.
Namun, Barcelona tetap mampu mengontrol sebagian besar jalannya pertandingan.
Ketika Feyenoord menaikkan posisi pemain, Barcelona justru memperoleh ruang untuk melakukan serangan balik. Kecepatan Raphinha, Lamine Yamal, dan pemain-pemain di lini depan menjadi masalah besar bagi pertahanan tim tamu.
Situasi tersebut akhirnya kembali menghasilkan gol bagi Barcelona.
Raphinha Cetak Gol Kedua
Pada menit ke-57, Raphinha kembali mencatatkan namanya di papan skor.
Gol kedua pemain Brasil tersebut lahir dari kombinasi permainan Barcelona yang memperlihatkan kualitas lini tengah dan depan. Pedri memberikan umpan yang membuka ruang, kemudian Raphinha memanfaatkannya dengan penyelesaian silang yang sulit dijangkau kiper Feyenoord.
Skor berubah menjadi 3-0.
Gol tersebut praktis membuat Barcelona semakin nyaman. Feyenoord harus mengejar defisit tiga gol, tetapi pada saat yang sama mereka harus berhati-hati karena setiap kehilangan bola dapat menjadi awal serangan berbahaya Barcelona.
Dengan dua gol tersebut, Raphinha kembali menunjukkan peran pentingnya dalam sistem permainan Flick. Ia bukan sekadar pemain sayap yang menunggu bola, tetapi menjadi bagian aktif dari pressing dan penyelesaian akhir.
Lamine Yamal Ikut Menggila
Setelah Raphinha, giliran Lamine Yamal memberikan kontribusi.
Pada menit ke-77, bintang muda Barcelona tersebut mencetak gol melalui tendangan bebas. Eksekusinya berhasil melewati celah di antara pagar betis Feyenoord sebelum masuk ke gawang.
Gol tersebut semakin membuat suasana stadion bergemuruh.
Yamal memang menjadi salah satu pemain yang paling merepotkan pertahanan Feyenoord sepanjang pertandingan. Selain mencetak gol, pergerakannya juga membuat pemain lawan harus terus memperhatikan sisi kanan serangan Barcelona.
Kombinasi Yamal dan Raphinha menjadi salah satu senjata utama Blaugrana dalam membongkar pertahanan lawan.
Feyenoord Dapat Gol Hiburan
Feyenoord akhirnya berhasil mencetak gol pada menit ke-82 melalui Sem Steijn.
Gol tersebut memberikan sedikit harapan bagi tim tamu, tetapi secara keseluruhan belum cukup untuk mengubah jalannya pertandingan.
Barcelona masih memegang kendali dan Feyenoord kesulitan mempertahankan tekanan dalam waktu lama.
Alih-alih melakukan tekanan besar setelah kebobolan, Barcelona kembali meningkatkan tempo dan segera mencari gol berikutnya.
Gabriel Jesus Lengkapi Kemenangan 5-1
Tidak lama setelah Feyenoord mencetak gol, Barcelona kembali menciptakan momen penting.
Gabriel Jesus berhasil mencetak gol kelima Barcelona pada menit ke-85. Penyerang asal Brasil tersebut memanfaatkan umpan Lamine Yamal dan menyelesaikannya dengan sundulan yang mengecoh pertahanan Feyenoord.
Gol ini sekaligus menjadi gol pertama Gabriel Jesus bersama Barcelona di pertandingan kompetitif.
Skor 5-1 bertahan hingga pertandingan selesai dan Barcelona mengawali kampanye UCL musim ini dengan kemenangan meyakinkan.
Analisis: Pressing Barcelona Jadi Kunci
Salah satu aspek paling menarik dari kemenangan Barcelona adalah tekanan mereka ketika tidak menguasai bola.
Flick tampaknya ingin membuat Feyenoord tidak memiliki waktu untuk membangun serangan dengan nyaman. Pemain depan langsung bergerak menutup jalur umpan sehingga lawan sering kehilangan bola sebelum memasuki area berbahaya.
Cara tersebut juga membantu Barcelona mengurangi beban lini tengah dan pertahanan. Ketika bola berhasil direbut lebih cepat, Barcelona dapat langsung mengubah situasi bertahan menjadi serangan.
Raphinha menjadi contoh paling jelas dari pendekatan tersebut. Ia tidak hanya produktif di depan gawang, tetapi juga menjadi pemain yang aktif memulai tekanan dari lini depan.
Variasi Serangan Barcelona Semakin Sulit Dibaca
Barcelona juga tidak bergantung pada satu pola serangan.
Yamal mampu memberikan ancaman dari sisi kanan, Raphinha bisa bergerak ke area tengah, sementara pemain seperti Pedri memberikan kreativitas dari lini tengah.
Karim Adeyemi juga memperlihatkan bahwa kecepatan di lini depan dapat menjadi senjata penting ketika Barcelona mendapatkan ruang.
Kedalaman tersebut membuat Feyenoord kesulitan memusatkan pertahanan kepada satu pemain. Ketika satu sisi ditutup, Barcelona masih memiliki opsi untuk mengalihkan serangan ke area lain.
Lima gol yang tercipta menjadi bukti bahwa efektivitas Barcelona tidak hanya berasal dari kemampuan individu, tetapi juga dari pergerakan kolektif yang membuat struktur pertahanan Feyenoord terus berubah.
Masih Ada Catatan untuk Barcelona
Meski menang telak, Barcelona tetap memiliki beberapa hal yang harus diperbaiki.
Feyenoord sempat mendapatkan ruang untuk melakukan serangan dan akhirnya berhasil mencetak satu gol. Bagi tim yang ingin bersaing hingga fase akhir Champions League, menjaga konsentrasi selama 90 menit akan menjadi aspek penting.
Clean sheet memang tidak selalu menjadi ukuran utama ketika sebuah tim menang 5-1. Namun, menghadapi lawan dengan kualitas lebih tinggi, celah kecil di lini belakang bisa memberikan konsekuensi jauh lebih besar.
Flick tentu bisa menggunakan pertandingan ini sebagai evaluasi sekaligus mempertahankan sisi positif dari permainan agresif yang ditunjukkan anak asuhnya.
Barcelona Kirim Sinyal ke Persaingan Eropa
Kemenangan 5-1 atas Feyenoord membuat Barcelona mengawali perjalanan UCL dengan sangat meyakinkan. Mereka tidak hanya mengamankan tiga poin, tetapi juga menunjukkan produktivitas tinggi dan kedalaman skuad yang menjanjikan.
Raphinha menjadi motor serangan dengan dua gol, Yamal kembali menunjukkan kualitasnya, Adeyemi memberikan ancaman melalui kecepatan dan tembakan, sementara Gabriel Jesus akhirnya membuka rekening gol bersama klub barunya.
Dengan performa seperti ini, Barcelona memberikan sinyal awal bahwa mereka datang ke Champions League bukan sekadar untuk melewati fase liga, tetapi juga untuk bersaing memperebutkan trofi.